admin 6 months ago

Destroying my expectation!

Audio > Earphone > Vyatta Airboom Phantom.

Awal Kata

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli earphone TWS, yang dulu saya benci sekali karena bentuknya yang bulky dan konektivitas yang ruwet. Namun dikarenakan faktor ganti hp yang tidak ada lagi lubang headphonenya dan teknologi TWS yang sudah membaik semenjak 2 tahun lalu pertama kali saya coba, mungkin sekarang adalah saat yang tepat.

Pertanyaan saya waktu itu, mau beli yang mana dan budget berapa nih? Saya putuskan budget dibawah 1 juta dan merk bebas. Langsung buka toko hijau dan sorting kata kunci TWS dari pembelian terbanyak. Mata saya tertuju dengan Vyatta Airboom Phantom ini, karena terlihat kecil, simpel dan penjualan 2.700++ dengan harga Rp.690.000. Well, dari nama merk memang terlihat kurang meyakinkan dan sepertinya juga tidak fokus di produk audio, tapi yasudahlah hajar saja buat pengalaman TWS pertama !

Disclaimer : barang merupakan pembelian pribadi, bahkan saya tidak baca review produknya sama sekali waktu membeli, dan saya baru pertama kali dengar merk Vyatta.

Hal Hal Penting

Aksesoris Begitu datang, unboxing kemasan kartonnya sangat eye catching dengan warna kuning yang mencolok namun tidak norak. Begitu dibuka terdapat petunjuk manual yang tertulis dengan bahasa indonesia dan inggris yang saya rasa di design cukup serius dengan font dan warna yang jelas (saya malah ingat kesan cyberpunk di kemasannya). Sisanya cukup standar untuk sebuah earphone TWS,. Berikut apa yang ada didalam kemasan,

- Kertas petunjuk manual
- Kabel pendek charger type C
- Eartips silikon (M,L terpasang), Eartips flat (S,M,L)
- Charger Case
- Earphone

Build Quality Vyatta Airboom Phantom (ribet banget namanya saya singkat aja jadi VA-Pe untuk kedepan) ini bodynya terbuat dari plastik, namun tetap terasa solid dengan finising doff yang terlihat lebih premium namun rawan terkena noda minyak. Faceplatenya dari kaca, dikarenakan ada fungsi fungsi sentuhannya. Dan sudah tersertifikasi IP-X5 yang berarti bisa kena cipratan air / keringat walau belum saya coba.

Untuk charger casenya juga mirip dengan earphonenya, keseluruhan dari plastik doff dan diatasnya diberi lapisan kaca. Bagi orang yang mungkin suka kesempurnaan, kesan buka tutup casenya terasa kurang mantap. Mudah untuk dibuka tutup karena model nutupnya dengan magnet, namun hinge tutupnya terlalu flimsy. Tapi, ternyata ketika sudah tertutup magnetnya kuat sekali menahan. Mau digoyang goyang posisi bagaimanapun tidak terbuka. Poin plus untuk ini.

Ekspektasi awal saya untuk build quality VA-Pe justru lebih rendah namun kenyatannya cukup OK.

Penampilan memang dari penampilan sesuai namanya si Va-Pe ini Phantom, tidak ingin terlihat mencolok sehingga semuanya bernuansa stealth black. Namun Vyatta melewatkan kesempatan promosi yang menarik kalau saja si Va-Pe ini diberika aksen aksen warna kuning sesuai boxnya sehingga bisalah nanti diasosiasikan dengan game yang lagi trending Cyper Punk 2077.

Walaupun jauh dari kesan jelek, namun ada satu catatan minus dari segi designnya, GA BISA BEDAIN LEFT – RIGHTNYA !! udah semua item, eartips juga item kanan kiri, kalau ga ngelihat dulu emboss L – R nya sering ketuker tuker makenya. Ini ya mohon Vyatta dicatet, tolonglah kedepan kasih tanda yang jelas supaya orang dari jarak 30 cm bisa bedain kanan – kirinya.

Kenyamanan Perasaan saya cukup campur aduk sewaktu pertama kali bentuk housingnya. Kesan positifnya, housing secara kesuluruhan terlihat kecil tapi kok itu noozle pendek amat dan cukup besar.

Bagi yang udah beberapa kali baca review saya, saya sering bilang kuping saya cukup rewel karena beda kontur kanan sama kiri dan cukup dalam untuk dapat sealing yang pas.

Tapi begitu dicoba, waw cukup gampang cari posisi yang nyaman dan ketika sudah pas, dipakai berlama lama juga tidak bikin pegal. Hanya yang mengganggu, ketika sudah selesai dan ingin melepas, sering sekali terasa eartipsnya terlalu nge seal sehingga terasa seperti di suction kupingnya. Triknya kalau buat saya, jangan langsung ditarik tapi diputar sedikit sampai ada udara masuk dan kesan suctionnya tidak ada lagi.

Konektivitas Oke, untuk masalah koneksi si Va-Pe ini hanya mendukung koneksi aptX dan A2DP normal (buat yang belum paham ini minuman jenis apa, silahkan baca artikel mengenai bluetooth codec), belum mendukung aptX – HD dan LDAC, jadi yaa mungkin tidak bisa berharap banyak ke resolusinya.

Proses pairingnya ternyata sangat gampang tidak ribet, yang tidak biasa pairing bluetooth bisa baca petunjuk manualnya. Yang terbiasa tidak sampai 10 detik tersambung. Koneksinya stabil tidak ada putus putus, saya coba sampai jarak 10 meter sesuai klaimnya juga tetap tersambung dengan baik. Kesimpulannya tidak bikin stress masalah koneksi.

Suara

Note : Ada 3 Source yang saya gunakan dalam pengetesan, handphone Sony Z5C, Google Pixel 3 dan AK120. TWS lain yang digunakan sebagai pembanding tidak ada, namun ada earphone seperti Havi B3 Pro 1, Shure 535, Final Audio 2000. Lagu yang saya pakai untuk di handphone full dari youtube

- David Gilmour Live at Pompeii – Comfortably Numb, High Hopes, Coming back to live
- Anggun album best of – Mimpi, Takut, Bayang Bayang Ilusi
- Dewa 19 live ft. Ari Lasso Sounds From the Corner – Cukup Siti Nurbaya, Pupus, Roman Picisan

Kualitas suara dari video youtube diatas sangat baik, silahkan kalian coba sendiri dengan iem terbaik kalian dan bandingkan dengan versi CD nya (kecuali Dewa 19 karena tidak ada CDnya).

Impresi Awal Ya, sesuai namanya sektor yang dijual adalah suara bassnya, saya rasa Va-Pe menggunakan 2 driver BA (karena tidak tertulis sama sekali di spesifikasinya). Kesan bassnya tidak murahan, dan ada keunikan dari karakter suaranya, walau bassnya tebal tapi transparansinya tergolong baik. Mau tahu kenapa? Silahkan lanjut kebawah.

Bass Saat kondisi paling seal, mentok telinga bassnya malah hilang haha (karena tidak ada udara tersisa ditelinga), jadi atur saja jangan sampai terlalu menekan.

Saat kondisi ternyaman terasa sekali kuat di sektor low bassnya dan mulai melandai kebawah menuju ke mid bassnya. Jadi kalian bisa dengarkan permainan bass di awal lagu Comfortably Numb dan High Hopes dengan amat jelas. Tapi pukulan pukulan drum seperti di lagu Cukup Siti Nurbaya kurang menghentak karena sektor low bassnya yang lebih dominan tadi. Dan otomatis dari segi kecepatan kurang dapet lagi lagi karena mid bassnya yang kalah dominan dengan low bassnya.

Vokal Ahh bicara vokal si Va-Pe ini langsung saja saya bilang tipis. Saya dengarkan ketika Ari Lasso nyanyi powernya kurang padahal uratnya lehernya keluar. Suara Master Gilmour juga tidak setebal seharusnya, yang justru di konser ini vokalnya sangat berkarakter, tebal, like a fine wine dibanding saat dia masih muda. Suara Anggun pun kurang sexy dan powernya berkurang.

Tapi jika dilihat dari sisi positifnya, karakter vokal tipis akan membawa rasa fatigue free. Karena tidak ada upper mid yang menyerang, yang biasanya sering terdengar di lagu lagu Anggun. Dan tipisnya vokal ini memunculkan sisi transparansi yang baik, nanti akan saya bahas lebih lanjut dibawah.

Treble Suara bel di awal lagu High Hopes tidak senyaring seharusnya, tapi masih terdengar sangat  jelas. Detail ambience sound dari keyboard masih terdengar, walau sedikit sayup sayup. Permainan solo steel gitar Master Gilmour juga kurang menusuk sukma di lagu High Hopes ini.

Ya memang Va-Pe kurang istimewa dibagian ini, namun masih sangat OK, semua detail detail masih terdengar.

Teknikalitas Soundstagenya terasa cukup intim, serasa kita mendengarkan lagu dari bagian depan panggung. Nah soal transparansi, di lagu Coming Back to Live. si Va-Pe ini mampu membawakan suara Wood Block (tok-tok-tok) di pertengahan lagu saat semua instrumen dan vokal mengisi.

Soal sound imaging, suara suara yang dihasilkan terkesan dekat dan tidak terasa kesan deep. Namun separasi tergolong baik, bahkan kita bisa tahu asal sumber suara, no problem.

Perbedaan Source saya termasuk yang bingung apakah nanti semua source akan terdengar sama karena teknologi TWS ini. Dan saya sendiri yang kaget, ketika mengkomparasi ke 3 source yang saya sebut. Di Pixel 3 kesannya lebih ke suara yang universal, yaitu bass yang besar dan treble yang berkurang. Di Sony Z5 Compact bassnya turun ke level yang lebih enak untuk dinikmati dan treblenya naik (keduanya menggunakan koneksi aptX yang sama dan source lagu youtube yang sama) dan di AK120 detail dan treble lebih keluar lagi entah karena file source saya yang lebih baik .FLAC dibanding youtube atau sound processing yang lagi lagi berbeda (AK120 hanya mentok di koneksi A2DC).

Jadi? Produsen device seharusnya tidak bisa berkelit jika menggunakan chip sound processing yang jelek, maka suara yang di transmisikan ke earphone TWS juga akan tetap jelek. Dan ini membuktikan handphone flagship pun dengan harganya yang mahal belum tentu mementingkan soal suara.

Overall Sound

Suara Va-Pe menargetkan para pengguna umum yaitu suara yang masuk zona nyaman. Dengan suara bass yang impactnya kuat mampu memuaskan para penggemar basshead, namun orang yang suka audio seperti saya pun bisa menikmati dan mungkin akan saya jadikan daily drive. Overall suara dari Va-Pe ini masuk disemua genre namun yang paling masuk adalah pop modern, r&b, electronic dan hiphop. Untuk rock mungkin bisa mendengarkan dari sisi yang berbeda namun memang kurang menggigit permainan gitarnya.

Kesimpulan

Vyatta entah suatu kebetulan atau mereka benar benar memikirkan suara dalam membuat produk earphonenya, menurut saya telah membuat stepping stone yang benar dan bisa dikatakan cukup jackpot kalau memang mereka hanya sekedar rebranding. Buat saya yang tadinya skeptis dengan TWS, mulai merasa arah perkembangan suara dan kenyamanann TWS akan semakin baik lagi kedepan.

Galeri


Rating
Rata Rata

7.8

Suara 8.0

Kualitas 8.0

Kenyamanan 8.0

Aksesoris 7.0

Value 8.0

Review

Buat Reviewmu

Bagikan ceritamu tentang produk ini.

Bagikan

Suka Artikel ini?

Bagikan ke Social Media